Orang Liberal Indonesia-Malaysia Berhadapan dengan
Ulama dan Umat Islam


Orang-orang betfikiran Liberal yang dinilai menghina Islam di Indonesia dan Malaysia berhadapan dengan ulama dan umat Islam. Ulil Abshar Abdalla (35 tahun) kordinator JIL (Jaringan Islam Liberal) di Jakarta diadukan ke polisi Desember 2002/ Syawal 1423H karena dinilai telah menghina Islam lewat tulisannya di koran Kompas 18 November 2002M berjudul “Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam”. Sementara itu orang-orang liberal di Malaysia, di antaranya Zainah Anwar, Kassim Ahmad, Faris A Noor, dan Akbar Ali dinyatakan oleh Persatuan Ulama Malaysia dan sejumlah organisasi Islam sebagai menghina Islam, dan diadukan kepada penguasa
Keberanian memporak-porandakan syan’at Islam oleh orang-orang model liberal itu tampaknya sudah melampaui batas. Kata orang Arab, balaghos sailuz zuba, (banjir sudah sampai di gunung). Kata orang Jawa, wis kebak sundukane (sudah penuh tusukannya, maksudnya bukti-bukti kejahatannya). Sampai-sampai Ulil Abshar Abdalla menganggap Vodca (satu jenis minuman keras, peti) itu bisa jadi dihalalkan di Rusia karena daerahnya sangat dingin.J Sedang larangan perkawinan Muslimah dengan non Muslim kini Ulil anggap sudah tidak relevan lagi1 2 3 Itulah bukti-bukti penohokan terhadap Islam.
Ulil Abshar Abdalla (36 tahun asal Pati Jawa Tengah) kordinator JIL (Jaringan Islam Liberal) tiba-tiba jadi bahan pembicaraan umum. Pasalnya, ia menulis di Harian Kompas Jakcuta, berjudul "Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam” pada terbitan Senin 18 November 2002M/ 13 Ramadhan 1423H. Rupanya Ulil sudah ada hubungan intensif dengan pihak Kompas, yang di masyarakat kadang diplesetkan jadi "Komando Pastur” itu. Karena sehari sebelumnya (Ahad, 17/12/2002), Ulil ketika berbicara di Masjid Kampus UGM (Universitas Gajah Mada) Jogjakatta mengatakan bahwa tulisannya tentang faham JIL (Jaringan Islam Liberal) akan muncul di Kompas besok. Tulisannya itu dia uraikan di Masjid UGM Jogja itu pula, dengan pengakuan bahwa sebenarnya apa yang ia tulis itu untuk menyamakan persepsi di kalangan JIL sendiri pula, yang menurutnya masih belum sama
Penyebaran gagasan Ulil yang ia sebut mengais-ngais dari khazanah lama itu sebelum tulisannya muncul di Kompas telah dibabat dalam Dialog Ramadhan di Masjid Kampus UGM Jogja itu oleh Isma’U Yusanto dari Hizbut Tahrir dan Hartono Ahmad Jaiz penulis buku Aliran dan Paham Sesat di Indonesia. Karena Ulil dalam uraiannya membagi syari’at Islam menjadi ibadah dan mu’amalah. Yang ibadah untuk diikuti, sedang yang mu’amalah seperti jilbab, pernikahan, qishosh, hudud, jual beli dan sebagainya; itu tidak usah diikuti. Karena yang penting adalah maqoshidus syari’ah (tujuan syati’ah) dan itu dikembalikan kepada keadilan Tuhan, katanya
Keruan saja pernyataan Ulil yang juga aktivis Lakspedam NU (Nahdlatul Ulama) itu dibabat dalam Dialog Ramadhan 1423H yang diselenggarakan “Jama’ah Salahuddin” UGM itu, hingga ia disuruh tobat, dan disebut sebagi menirukan cara Iblis, yaitu disuruh oleh Allah malah membantah. (Lihat di Majalah Media Dakwah, Desember 2002/ Syawal 1423H: Tokoh JIL Diminta Tobat)
Dalam kesempatan di Masjid UGM Jogja itu tangan Ulil mengangkat buku Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, dengan mengatakan, saya dianggap sesat di dalam buku ini. Tetapi itu hanyalah ijtihad Mas Hartono (Penulis buku ini). Asal yang mengatakan sesat itu tidak langsung Tuhan, tidak apa-apa bagi saya, serunya
Karena hal-hal yang dilontarkan Ulil dan perlu ditanggapi cukup banyak, maka ungkapan tersebut belum sempat ditanggapi. Namun dalam siaran di Radio FM Muslim Jakarta, setelah lebaran Iedul Fitri 1423H, dan keadaan justru ramai membicarakan kasus Ulil yang dinilai menghina Islam lewat tulisannya di Kompas tersebut, dan hukuman penghina Islam itu adalah hukum bunuh/ mati; maka diulas pula ungkapan Ulil, “asal yang mengatakan sesat itu bukan langsung Tuhan” itu tadi.
Dalam siaran Radio FM Muslim Jakarta, Hartono mengemukakan, bagaimana mungkin untuk masa sekarang yang sudah tidak turun wahyu, seseorang perlu dikatakan langsung sesatnya oleh Allah Subhanahu w a Ta’ala. Sedangkan, di zaman Nabi Shallallahu Alaihi w a Sallam, dan wahyu masih turun pun, ketika dedengkot gembong munafiq Abdullah bin Ubai bin Salul menyebarkan berita bohong, yaitu menuduh Aisyah isteri Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berzina, ternyata Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menyebut langsung nama Abdullah bin Ubai. Walaupun, memang disebut kebohongannya dan ancaman siksanya Tetapi nama Abdullah bin Ul)ai tidak disebut. Kalau sudah tingkat Abu Lahab, Fir’aun, bahkan Ibhs, maka disebut oleh Allah, bahkan Iblis dan Fifaun disebut berkali-kali.
Pembabatan terhadap lontaran Ulil (tokoh liberal) secara drastis ternyata muncul, (bukan sekadar diiblis-ibliskan seperti yang terjadi di Jogjakarta dan di siaran Radio di Jakarta, atau disuruh kembali ke Islam sebelum mati nggluntung/ Karena para ulama dari Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, di antaranya dari unsur Kiai NU (Nahdlatul Ulama) pun menyatakan bahwa tulisan Ulil di Kompas itu sudah menghina Allah, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, Islam, dan umat yang ingin menegakkan syari’at Islam. Sedangkan hukum bagi penghina Islam itu adalah hukuman mati, alias darahnya halal. Pernyataan itupun muncul menjelang Idul Fitri 1423H.
Jaringan Menghina Allah, Rasul-Nya, Ulama, dan Umat Islam Majalah Gatra di Jakarta -dengan cover gambar kepala dililit tali gantungan- membuat laporan utama tentang kasus Ulil Abshar Abdalla ini pada edisinya 21 Desember 2002, di antaranya sebagai berikut:
“Pernyataan Bersama Ulama dan Umat Islam Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur” di Bandung, Jawa Barat, 2 Desember, menjelang Lebaran lalu:
Satu di antara isi pernyataan bersama itu berbunyi, Menuntut aparat penegak hukum untuk membongkar jaringan dan kegiatan yang secara sistematis dan masif melakukan penghinaan terhadap Allah, Rasulullah, umat Islam, dan para ulama.” Mereka menuding tulisan Ulil Abshar Abdalla, Koordinator Jaringan Islam Liberal, di Kompas 18 November lalu, berjudul “.Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam”, sebagai contoh penghinaan dimaksud.
“Menurut syariat Islam, oknum yang menghina dan memutarbalikkan kebenaran agama dapat diancam dengan hukuman mati, ” demikian lanjutan pernyataan itu.
Akhir pekan lalu, Rizal Fadhilah bersama timnya sibuk melakukan pembahasan akhir draf surat pengaduan tersebut. Bila tak ada aral melintang, awal pekan ini mereka berniat menyampaikan laporan itu ke polisi. “Dalam waktu dekat kami akan laporkan, mungkin Senin,” kata Fadhil.
Materi pernyataan itulah yang dalam dua pekan terakhir ini bikin heboh dan dikencd sebagai fatwa mati untuk Ulil Abshar Abdalla
Seorang perumus fatwa itu, KH Athian Ali Muhammad Da’i, MA, menandaskan bahwa fatwa itu tidak hanya untuk Ketua Lakpesdam Nahdlatul Ulama (NU) tersebut. “Terlalu kecil jika kita hanya menyorot Ulil. Kita ingin membongkar motif di balik Jaringan Islam Liberal yang dia pimpin, ” kata kiai yang pernah mengeluarkan fatwa mati untuk Pendeta Suradi, Februari 2001, itu.
Fatwa tersebut dirumuskan dalam acara silaturahmi ulama asal Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, di Masjid Al-Fajar, Jalan Situsari, Bandung. Masjid ini adalah sekretariat Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) yang dipimpin Athian Ali. “Silaturahmi ini tidak direncanakan sebelumnya,” kata Athian. Kebetulan, Sabtu 30 November lalu, KH Luthfi Bashori (kiai NU asal Malang, Jawa Timur) dan KH Mudzakir (Forum Umat Islam Surakarta) beserta rombongan menyampaikan kabar hendak mampir silaturahmi ke FUUI.
Usai dari Bandung, rombongan itu melanjutkan perjalanan ke Jakarta untuk menjenguk KH Abu Bakar Ba’asyir:
Pertemuan di Bandung berlangsung pukul 20.30 sampai 01.30. Menurut panitia, Hedi Muhammad, sekitar 75 tokoh menghadiri silaturahmi itu. Antara lain KH Siddiq Arnien (Ketua Umum Persis), Prof. Dr Tb. Hasanuddin (Muhammadiyah Jawa Barat), KH Abdullah Abu Bakar (Dewan Masjid Indonesia), Ir. Muhammad Rodi (Partai Keadilan Solo, Jawa Tengah), serta Ali Usman (PPP Solo).
Tiap peserta mengusulkan agenda aktual tertentu agar diangkat dalam pernyataan bersama. “Sempat muncul tiak perdebatan kecil, tapi tak sampai memanas, suasananya Islami," kata Hedi Muhammad, yang juga Sekretaris FUUI, kepada Mappajarungi dari GATRA. Akhirnya, disepakatilah empat poin untuk dinyatakan bersama Mulai soal penyelesaian hukum kasus Abu Bakar Ba’asyir, setuan memboikot produk Coca-Cola, fatwa mati Islam liberal, serta setuan menentang hegemoni politik Amerika Serikat.
Dalam hal fatwa mati, forum tersebut tidak secara khusus membahas proses penggalian hukum (istimbath) delik penghinaan agama yang berujung sanksi penghilangan nyawa itu. “Pembahasannya sudah kami selesaikan saat mengeluarkan fatwa mati pada Pendeta Suradi4 
dulu," kata Athlon Ali kepada GATRA. Kasus tulisan Ulil Abshar tupanya dianalogkan dengan kasus Suradi: sama-sama penghinaan agama Diskusi butir ini pun berlangsung lancar.
Athian setnula khawatir, peserta dan NU, KTT Luthfi Bashoti, akan menentang fatwa mati itu, karena Ulil Abshar dikenal sebagai pemikir muda NU. “Ternyata, Kiai Luthfi tennasuk yang bersikeras mendukung," ujar Athian.
Ketika GATRA menghubungi pengasuh Pondok Pesantren Al-Murtadha, Singosaii. Malang, itu, ia membenarkan dukungan tersebut.
“Jaringan Islam Liberal itu meresahkan umat Islam. Kalangan pesantren menilainya telah melecehkan Islam," kata Luthfi, 37 tahun, kepada Yohan Wahyu doti GATRA. Kiai muda yang pernah berguru pada Syekh Alwi Al-Maliki di Mekkah, Arab Saudi, ini batu saja menerbitkan
buku berjudul Musuh Besar Umat Islam, yang diberi kata pengantar oleh Dr. Fuad Amsyari (Surabaya). Dalam buku itu, Luthfi menyebut Islam liberal sebagai pelaku “sinkretisme modem".
Jaringan Islam Liberal (JIL) dikoordinasikan Ulil sejak awal 2001
Sebagaimana petnah ditulis GATRA, Desember 2001 jaringan ini mewadahi pengembangan pemikiran keislaman yang kritis, pluralis, dan membawa misi pembebasan. Nurcholish Madjid dan Abdurrahman Wahid tercatat sebagai sedikit pemikir muslim Indonesia yang menjadi “maskot” mazhab JIL. Konsolidasi jaringan ini dimaksudkan sebagai respons atas menguatnya ekstremistne dan fundamentalisme agama
Mereka memanfaatkan kemajuan multimedia untuk menopang kampanye gagasan, dari jaringan koran, radio, sampai internet. Dalam petjalanannya, kontributor JIL kerap terlibat ketegangan dengan kalangan Islam literal. Mulai ketegangan di fotum diskusi, ajuan somasi, sampai pengaduan ke polisi. Kasus fatwa mati kali ini seperti menjadi akumulasi dari serangkaian hubungan tegang antar dua kubu pemikiran Islam itu.
Artikel Ulil yang dinilai menghina Allah, menurut Athian, adalah ungkapan bahwa tidak ada hukum Tuhan. “Menurut saya, tidak ada yang disebut hukum Tuhan dalam pengertian seperti dipahami kebanyakan orang Islam. Misalnya hukum Tuhan tentang pencurian, jual-beli, pernikahan, pemerintahan, dan lain-lain,” tulis Ulil. “Ini penghinaan luar biasa pada Tuhan,” kata Athian.
Tuduhan penghinaan atas Nabi dirujukkan pada bagian artikel yang berbunyi, “Rasul Muhammad adalah tokoh historis yang hatus dikaji dengan kritis, (sehingga tidak hanya menjadi mitos yang dikagumi saja, tanpa memandang aspek-aspek beliau sebagai manusia yang juga banyak kekurangannya). ” Ulil juga dipandang menghina Islam ketika menyamakan Islam dengan agama-agama lain.
Ulil menulis, “Islam—seperti petnah dikemukakan Cak Nur dan sejumlah petnikir lain—adalah 'nilai genetis’ yang bisa ada di Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu, Yahudi, Taoisme,... bisa jadi, kebenaran Tslam’ ada dalam filsafat mandsme. ” Bagi Athian, kebenaran mutlak hanya satu, yaitu Islam.
Tidak hanya dinilai menghina Allah, Nabi, dan Islatn, Ulil juga dianggap menghina ulama dan umat Islatn ketika menulis, “Mengajukan syariat Islam sebagai solusi atas semua masalah adalah sebentuk kemalasan berpikir, atau lebih parah lagi, metupakan cara untuk lati dari masalah, sebentuk eskapisme dengan memakai alasan hukum Tuhan. ”
Menanggapi fatwa ini, Ulil meminta agar orang tidak mudah main- main dengan fatwa mati. “Itu malah bisa memperburuk citra Islatn,” katanya Dari segi kredibilitas ulama pemberi fatwa dan pengatuh mereka, Ulil sebenarnya tidak khawatir pada dampak fatwa ini. “Tapi, ini semacam cicilan kecil menuju langkah berikutnya yang berbahaya,” 
katanya “Ini bisa mendptakan iklim teror, sebentuk terorisme pemikiran."
Pada struktur masyarakat Sunni yang terpecah-pecah, karena tidak ada kepemimpinan agama yang terpusat, Ulil khawatir fatwa demikian bisa menjadi bola liar. “Siapa saja bisa menangkap bola ini untuk mengeksekusi dengan caranya sendiri,” katanya kepada GATRA. Perbedaan penafsiran atas agama, menurut Ulil, jangan mudah divonis menghina Islam. Ia bersiap melapor ke polisi kalau buntut fatwa ini serius mengancam keamanan pribadinya Malah, sudah ada yang menawarinya beasiswa studi ke Michigan University, Amerika Serikat, bila ia merasa terteror di Indonesia (Jakarta, Senin, 16-12-2002 00:45:07 Islam Liberal Bahaya Bola Liar Fatwa Mati, GATRA.com/ Majalah Gatra, 21 Desember 2002).
Ulil Lebih bandel
Saya (Hartono Ahmad Jaiz) lihat Ulil Abshar Abdalla tampak lebih bandel/ tahan banting dibanding dedengkot nyeleneh angkatan lama seperti Abdurrahman Wahid dan Nurcholish Madjid. Satu contoh, dua tokoh yang faharnnya pluralisme agama -menyejajarkan Islam dengan agama-agama lain— itu dalam diskusi di Gedung Pers Kebon Sirih Jakarta, April 1985 tampak tegang dan marah-marah hanya karena seorang penanya mengemukakan bahwa terjemahan Nurcholish Majid Tiada tuhan (t kecil) selain Tuhan (T besar)” adalah terjemahan yang haram. Dua orang itu (Nurcholish dan Gus Dur) sewot, berkata keras dan membalik-balikkan ucapan kepada penanya. Sebaliknya, kini, Ulil Abshar Abdalla, ketika dalam diskusi/ debat di Al-Azhar Jakarta Mei 2002 dengan saya, dan di Masjid Kampus UGM (Universitas Gajah Mada) Jogjakarta Ramadhan 1423H/ 17 November 2002M (sehari sebelum tulisan Ulil muncul di Kompas j, ternyata Ulil tidak segrogi Nurcholish atau Abdurrahman Wahid. Padahal, di Jogjakarta itu saya berkata keras, menegaskan bahwa Ulil memakai cara Nicollo Machiavelli yang dikenal menghalalkan segala cara, bahkan cara HAis. Tidak kalah sengitnya, Ismail Yusanto menekankan agar Ulil Abshar Abdalla kembali ke Islam yang benar sebelum dirinya mati nggluntung. 
Ungkapan yang drastis sudah dihujankan kepada Ulil dan berbagai pihak. Namun dia hanya kadang tampak mengkeret sedikit lalu tegar lagi. Berbeda dengan dua tokoh yang tersebut di atas. Seperti Nurcholish Madjid, begitu dihajar oleh Media Dakwah akhir 1992 dan 1993, sampai- sampai dia sakit dan harus dibawa tetirah (istilah Jawa, digunakan untuk anak kecil yang sakit-sakitan lalu dibawa ke tempat lain, misalnya ke neneknya agar berganti suasana dan cepat sembuh, menurut Aru Saif Asadullah, teman Ridwan Saidi tokoh Betawi) ke pegunungan Dieng Jawa Tengah oleh rekan-rekan pendukungnya saat itu. Di samping itu para pendukungnya, sejadi-jadinya secara maksimal membelanya, misalnya Dawam Rahardjo, sampai di aneka kesempatan dipakainya untuk membela Nurcholish Madjid. Entah itu syukuran lulusnya Azyurnardi Azra dari Univbersitas Columbia Amerika, entah itu sebagai utusan ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia) ke cabangnya di London untuk kawasan Eropa dan sebagainya Dawam Rahardjo secara bicara duga- duga tapi sangat bersemangat membela Nurcholish, bicara sejadi-jadinya Intinya, membenarkan Nurcholish Madjid dan menyalahkan serta menjelekkan pengkritiknya. Pembelaan yang seperti itu barangkali saja mengakibatkan orang yang dibela yaitu Nurcholish Madjid tambah kencang tegangannya, hingga Nurcholish Madjid tega mencaci Hartono Ahmad Jaiz sebagai wartawan tengik. (Lihat di Bulat Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, 2002).
Pembelaan Dawam Rahardjo terhadap Ulil Abshar Abdalla agak lain lagi. Ketika di televisi Metro TV, Senin malam (23/12 2002), Dawam
“Terdapat juga perbincangan yang mendalam mengenai isu ini di dalam internet yang kebiasaannya mengeluarkan pendapat yang lebih mencabar berbanding apa yang kita dengar daripada mereka yang berjanggut”)
(“Many Sides to tudung issue” oleh Akbar Ali - The SUN, 12 April 2000)
4.0       MENAFIKAN HUKUM ISLAM MENGENAI MURTAD
4.1       Hie Quran allows a person to become apostate twice and then to persist in his disbelief' "No punishment of any soil at all is prescribed for such a person other than the promise that God will never forgive him nor guide him to the right path. Hiis is God's promise. It is liis law.”
(..Al-Quran membenarkan seseorang menjadi murtad dua kali dan kekal sebagai kafir.
..Tiada lmknman dinyatakan ke atas seseorang yang murtad selain dari janji Tuhan yang tidak akan mengampuninya mahupun memberinya petunjuk yang lurus. Ini adalah janji Tuhan. Ini adalah undang-undangNya.)
(Death For Apostates Unjust oleh Akbar Ali - Hie SUN, 14 hb Julai 1999)
4.2"The few women who have spoken in support of polygamy also seem to be strong supporters of the ulama brand of religion. The ulama in their efforts to confuse have come out with fancy stories that a wife who consents for her husband to take another wife is assured a place in paradise”
(“Segelintir wanita yang telah mengutarakan pendapat menyokong poligami nampakanya menjadi penyokong kuat terhadap ugama mengikut jenama ulama . ulama dalam usaha mereka untuk mengelinikan telah mengeluarkan cerita-cerita karut bahawa seorang isteri yang membenarkan suaminya berkahwin lain dijamin syurga.”)
(Polygamy in Islam comes with a heavy responsibility - Akbar Ali dalam Hie SUN 20/1/02)
5.0       MENAFIKAN HUKUM YANG TELAH JELAS DALAM AL-QURAN
5.1       "Therefore the question that should be addressed in our society today is not whether poligamy should be relegalised wider the civil law for the non Muslims, but whether it should still be continued wider the Islamic family law for the Muslims”.
(“Oleh keraua itu soal yang perlu ditangani di dalam masyarakat lata hari ini bukanlah isu samada poligami patut disalikan di bawah undang-undang sivil untuk orang bukan Islam, tetapi samada ia sepatutnya dibenarkan tenis di dalam undang-undang keluarga Islam”)
[''Islam did not Invent or Encourage Polygamy”, Sisters in Islam, NST104' January 2002]
5.2“ As for the nmnber of wives allowed in polygamy, the Quran does not indicate a fixed maximum of four. Hie phrase "two and tlu ee and fow “ is also fowid in describing the wings of angels”
("Mengenai bilangan isteri yang dibenarkan di dalam poligami, Al-Quran tidak menetapkan bilangan yang terhad kepada empat. Pernyataan "dua dan tiga dan empat” juga terdapat dalam memperihalkan sayap-sayap para malaikat”)
(Polygamy in Islam Conies ith a Heavy Responsibility - Akbar Ali dalam Hie SUN 20/1/02)
6.0       ISLAM DIPERSOALKAN
Majlis Peguarn dengan kerjasama Sisters in Islam dan National Human Rights Society telah menganjurkan Bengkel
Raharjo yang telah dikecam oleh para ulama Indonesia dan luar negeri karena menghadirkan penetus nabi palsu Ahmadiyah, Tahir Ahmad, dari London ke Jakarta tahun 2000 masa pemerintahan Gus Dur ini sok “menasihati” para ulama, agar berhati-hati kalau betfatwa. Karena seperti kasus di Mesir, kata D awam, di antaranya Faraq Fouda (tokoh sekuler tahun 1990-an, model JIL atau kelompok liberal, pen) dibunuh (oleh tukang ikan di Mesir, 8 Juni 1992) itu di antaranya karena fatwa ulama, menurut Dawam Rahardjo. Pembelaan Dawam itu diucapkan di samping Ulil Abshar Abdalla yang berbicara langsung di Metro TV. Sementara itu Dawam Rahardjo sendiri tidak bisa/ tidak menjawab semprotan KH Athi’an dari Bandung (lewat telepon) yang mempersoalkan kenapa Dawam Rahardjo menyebut Al-Qur’an itu filsafat.  
Perlu diingat, Dawam Rahardjo adalah petinggi di LP3ES yang pada tahun 1982 menggegerkan umat Islam karena menerbitkan buku Catatan Hanan Ahmad Wahib suntingan Johan Effendi (orang Ahmadiyah) dan temannya, Ismet Natsir keluaran STF Katolik Driyarkara Jakarta tempat kuliahnya Ulil Abshar Abdalla di bawah bimbingan Romo Magnis Suseno S J. Buku “panduan pluralisme agama dan pemikiran sekuler liberal” itu sangat dikecam oleh MUI (Majelis Ulama Indonesia) dan para tokoh Islam, karena isinya ada 26 point yang menghina Islam, di antaranya landasan Islam bukanlah al-Qur’an tapi sejarah Muhammad. Sedang Karl Marx - dedengkot yang menimbulkan Matxisme dan menganggap agama adalah candu bagi masyarakat- itu dianggap surganya sama dengan surga Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam atau bahkan lebih tinggi lagi.
Kembali pada kasus Ulil, pembelaan-pembelaan kepada Ulil Abshar Abdalla tampaknya hanya pating clebung (menyuara sana sini) tidak sebagaimana orang membela Nurcholish Madjid. Bahkan mertua Ulil Abshar Abdalla senditi, KH Musthofa Bisri tokoh NU, mengkritik tulisan Ulil (sang menantu ini) lewat Kompas pula, yang intinya tulisan itu keterlaluan. NU Jawa Timur dan tokohnya seperti Luthfi Bashori dari Malang justm menyetujui hukuman mati atas penghina Islam, sedang Ulil pun tennasuk. Ini adalah satu hal yang berbeda dengan Nurcholish Madjid, yang kalau toh ada kritikan dari sesama rekannya, hanya sederhana Misalnya, Dr Bachtiar Effendi menganggap pembaruan Nurcholish Madjid dengan mengartikan kalimah thoyyibah laa ilaaha illallaah menjadi “tiada tuhan (t kecil) selain Tuhan (T besar) itu adalah cari kerjaan saja, sebagaimana Gus Dur mau mengganti assalamu alaikum jadi selamat pagi. Kritikan lain dari sesama rekan ada juga di antaranya Pak Sutjipto Wirosardjono dari Koran Republika, bahwa pembaruan yang dicanangkan itu secara perhitungan kenyataan, antara lukanya dan hasilnya banyak lukanya.
Kalau kepada Nurcholish Madjid, orang seperti Dawam Rahardjo pembelaannya jelas secara gigih. Opini pun dibangun oleh para pembela Nurcholish atau mungkin bisa juga oleh Nurcholish Madjid sendiri, bahwa orang yang tak setuju kepadanya itu karena pikirannya belum sampai. Pembelaan model taShallallahu Alaihi wa Sallamuf sesat itu disebarkan secara luas atau tersebar ke mana-mana Sehingga Nurcholish dicitrakan sebagai tokoh intelektual atau bahkan cendekiawan plus embel-embel Muslim. Namun rupanya pembelaan-pembelaan semacam itu justm mengurung Nurcholish Madjid untuk tidak merujuk kepada pemahaman atau sikap yang obyektif dan hati-hati. Akibatnya, kata-kata kasar pun (tidak usah saya kutip) dilontarkan kepada Ridwan Saidi, rekannya sendiri, dan juga kepada saya (Hartono Ahrnad jaiz). 
Ulil Abshar Abdalla pun terjerumus kepada kevulgaran yang ia sendiri mengakui bahwa tulisannya di Kompas itu provokatif dan berlebihan. Itu bukan sekadar satu sisi, tapi dua sisi. Yaitu sisi yang ia sebut musyakalah 6(rnenyarnai, mengimbangi) orang-orang yang ia sebut garis keras (istilah ini bikinan, untuk menyudutkan Muslimin yang istiqornah melawan sekuler dan pluralis). Sebagaimana pengakuan Ulil:
Ulil mengakui, gaya tulisannya memang provokatif. “Tulisan saya sengaja provokatif, karena saya berhadapan dengan audiens yang juga provokatif, dalam istilah balaghah-nya (sastra Arab), musyakalah," katanya “Dari segi substansi, saya tidak menyesali tulisan saya. Mungkin saya mengevaluasi cara saya yang kurang tepat.” (Gatra, Nomor 05, 21 Desember 2002],
Dalam awancara di Majalah Tempo, Ulil ditanya
Memangnya Anda sedang geram ketika menulis artikel itu—seperti yang diduga oleh mertua Anda, K.HMustafa Bisti?
(Jawab Ulil): Memaiig tulisan itu provokatif dan agak melebih-lebihkan. Tulisan itu adalali hasil perjumpaan dan pergumulan pemikiran saya dengan teman-teman garis keras dalam sejumlah diskusi. Misalnya dengan Ismail Yusanto dan Hizbut Talmr, Aclian Husaim dan KISDI, Haitono Alunad Daib yang menulis buku Paham dan Golongan Sesat cli Indonesia. Pandangan mereka saya anggap bercorak “gerakan Islam bani”, untuk membedakan dengan gerakan Islam lama seperti Muhammadiyah dan NU. ***** ( @ tempomteraktif.com/ Majalah Tempo, 19 Desember 2002 ).
Sisi kedua adalah kevulgaran dalam menohok Islam
Inilah yang justru seharusnya pertama tama harus disadari dan kemudian bertaubat. Tetapi malahan Ulil bersikukuh dengan tegar: “Dari segi substansi, saya tidak menyesali tulisan saya...”
Padahal yang diresahkan dan dikhawatirkan oleh umat Islam tennasuk dari kalangan NU (Nahdlatul Ulama), bahkan Kiai NU, KH Luthfi Bashori dari Malang Jawa Timur, sampai menyepakati bahwa tulisan itu menghina Islam, sedang orang yang menghina Islam itu hukumannya menurut Islam bisa dihukum mati, adalah justru substansi isi tulisan itu. Bukan sisi kevulgaran yang ia sebut provokatif dari segi cara atau penampilan gaya menulisnya
Majalah Gatra mewawancarai Ulil di antaranya dalam meteri-meteri sensitif yang jelas jawaban Ulil menohok Islam sebagai berikut.
Islam di Antara Agama-agama Lain
Ulil: “Semua agama sama Semuanya menuju jalan kebenaran. Jadi, Islam bukan yang paling benar Pemahaman serupa terjadi di Kristen selama berabab-abad. Tidak ada jalan keselamatan di luar Gereja. Baru pada 1965 Masehi, Gereja Katolik di Vatikan merevisi paham ini. Sedangkan Islam, yang berusia 1.423 tahun dari hijrah Nabi, belum memiliki kedewasaan yang sama seperti Katolik. ”
Kawin Beda Agama
Ulil: “Larangan beda agama bersifat kontekstual. Pada zaman Nabi, umat Islam sedang bersaing untuk memperbanyak umat. Nah, saat ini Islam sudah semilyar lebih.
kenapa harus takut kawin dengan yang di luar Islam. Islam sendiri sebenarnya sudah mencapai kemajuan kala itu, membolehkan laki-laki muslim kawin dengan wanita ahli kitab. Alih kitab hingga saat ini masih ada. Malah, agama-agama selain Nasrani dan Yahudi pun bisa disebut ahli kitab. Kawin beda agama hambatannya bukan teologi, melainkan sosial ” (Gatra, 21 Desember 2002).
Tidak Ada Hukum Tuhan
Ulil: “Dalam pemikiran hukum Islam dibedakan antara wilayah ibadah dan muamalah. Wilayah ibadah sudah diatur secara detail. Semua tata cara ibadah haius sesuai dengan ketentuan agama. Misalnya salat, jumlah rakaatnya tak bisa ditambah.
Tapi, muamalah itu progresif dan dinamis, sesuai dengan perkembangan manusia. Sedangkan hukum Tuhan yang diibaratkan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tak pemali ada. Walaupun pernah diterapkan pada masa Nabi, hanya berlaku pada saat itu saja. Misalnya potong tangan, qishash, dan rajam. Ini praktek yang lahir karena pengaruh kultur Arab.
Yang terpenting dalam hukum adalah mencakup lima pokok kemaslahan (maqasidusy-syariah), yaitu untuk menjaga jiwa, akal, agama, harta, dan kehormatan. Misalnya, perlindungan akal diwujudkan dalam bentuk pelarangan minuman keras (khamar). Jadi, haramnya khamar ini bersifat sekunder dan kontekstual. Karena itu, vodka di Rusia bisa jadi dihalalkan, karena situasi di daerah itu sangat dingin.” (Gatra, 21 Desember 2002).
Merusak Islam
Cara berfikir Ulil Abshar Abdalla ini sangat memberi peluang dalam merusak pemahaman Islam. Dalam hal lima pokok itu sendiri, urutan lima hal yang dilindungi itu sudah ia ubah. Mestinya urutan yang pertama adalah agama (perlindungan nomor pertama, hingga orang yang murtad dan meninggalkan jama'ah maka dihukum mati karena membahayakan agama), lalu oleh Ulil diurutkan ke nomor tiga. Padahal dikedepankannya agama sebagai nomor pertama yang dilindungi itu ada implikasinya. Dalam sejarah, nabi palsu seperti Musailamah Al-Kadzdzab diperangi sampai mati oleh Khalifah Abu Bakar Shiddiq dengan mengerahkan 10.000 tentara, dan dipilihkan panglima terkenal Khalid bin Walid untuk memimpin penyerbuan. Demikian pula Ja'd bin Dirhim disembelih sebagai korban di hari raya Idul Adlia oleh Gubernur Wilayah wasitli di Irak gara-gara pendapatnya yang nyeleneh, yaitu mengingkari Nabi Ibrahim sebagai Khalilullah, dan Nibi Musa sebagai Kalimullah.8 Juga murid Ja'd bin Dirhim yakni Jahm bin Shofwan dibunuh karena pendapatnya yang menyeleweng dari Islam. Al-Hallaj pun dihukum bunuh di Baghdad tahun 309H/ 922M atas keputusan para ulama karena Al-Hallaj tokoh taShallallahu Alaihi wa Sallamuf sesat itu mengatakan anal hacjcj (aku adalah al-haq. Tuhan).
Dari sisi lain, tentang apa yang telah dikemukakan Ulil, kalau larangan minuman khamr itu bersifat sekunder dan kontekstual, hingga vodka di Rusia bisa jadi dihalalkan, karena situasi di daerah itu sangat dingin: maka larangan berzina yaitu untuk melindungi keluarga (nasab -keturunan) pun bisa diqiyaskan kepada “fatwa Ulil” tentang vodka itu. Hingga orang yang bennadzhab kepada faliam Ulil akan mengqiyaskannya: berzina di Puncak yang udaranya sangat dingin atau di musim dingin di daerah-daerah yang ada musim dinginnya maka tidak apa-apa, karena di sana sangat dingin. Karena zina itu
larangannya sekunder dan kontekstual. Kalan sampai demikian, maka rusak lah agama ini.
Kontekstual yang benar menurut ilmu Islam adalah avat satu dihubungkan dengan ayat lainnya seita hadits-hadits yang menjelaskannya, sesuai dengan penjelasan para sahabat, tabi in, tabi'it tabi in atau ulama yang ahli dan terpercaya. Itulah kontekstual. Sehingga ditemukan makna ayat atau hadits yang benar-benar sesuai dengan apa yang dimaksud oleh Nabi Shallallalui Alaihi wa Sallam.
36. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, ia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda: ‘Seorang penzina tidak akan berzina jika ketika itu dia berada di dalam keimanan. Seorang pencuri tidak akan mencuri jika ketika itu dia berada di dalam keimanan (yaitu iman yang sempurna). Begitu juga seorang peminum arak tidak akan meminum arak jika ketika itu dia berada di dalam keimanan'..(HR Al-Bukhari dan Muslim/ Muttafaq ‘alaih).
1177. Diriwayatkan dari Ibnu Umai Radhiyallahu Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi n'a Sallam bersabda: ‘Setiap minuman yang memabukkan adalah arak dan setiap yang memabukkan adalah haram. Barangsiapa yang meminum arak di dunia lalu meninggal dunia dalam keadaan dia masih tetap meminumnya dan tidak bertaubat, maka dia tidak akan dapat meminumnya di Akhirat kelak’...” (HR Al-Bukhari dan Muslim/ Muttafaq ‘ alaih).
1558. Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu, ia berkata: ‘‘Rasulullah Shallallahu Alaihi n-a Sallam bersabda: ‘Di antara tanda-tanda hampir Kiamat ialah terhapusnya ilmu Islam, munculnya kejahilan, ramainya peminum arak, dan perzinaan dilakukan secara terang-terangan ...” (HR Al-Bukhari dan Muslim/ Muttafaq ‘alaih).
Penjahat akan terdukung kejahatannya
Nurcholish Madjid dalam kondisi yang kalah tegar dibanding Ulil, namun akibat didukung-dukung oleh para pengagumnya seperti Dawam Rahardjo maka bisa diangkat sebagai orang berjulukan cendekiawan Muslim terkemuka, sedang oleh pihak yang mengkritisinya adalah tak lebih dari Gatoloco Dannogandul yang mengkutak-katik Islam semaunya
Ulil Abshar Abdalla dengan aneka ketegarannya mendapatkan fatwa hukuman mati dengan digiyaskan kepada Pendeta Suradi yang menghina Islam, tapi oleh pendukungnya ia malah mendapatkan tawaran untuk belajar di Amerika serta diberi peluang untuk berbicara, menulis, ceramah dan sebagainya oleh orang-orang atau lembaga atau kelompok yang ingin menghancurkan Islam lewat orang yang mengaku Islam.
Orang yang membela agama Allah dengan ikhlas insya Allah akan dimudahkan Allah SUBHANAHU WA TA’ALA. Sebaliknya, orang yang merusak agama, ia akan mendapat dukungan dari kafirin, munafigin, musyrikin, sekuler, anti Islam betfaham liberal, menyamakan semua agama dan sebagainya hingga mudah untuk menjajakan perusakan terhadap agama Padahal masalah semacam ini telah diancam oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.
1547. Diriwayatkan dari Ali, ia berkata *Ketika aku mengiringi jenazah di perkuburan Bagi’ al-Ghargad (di Madinah), lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menghampiri kami, lantas baginda duduk dan kami juga duduk di sekitarnya Baginda memegang sebatang tongkat dan menghentakkan tongkat itu ke tanah. Baginda kemudian menggariskan tanah dengan tongkat tersebut dan bersabda ‘Setiap orang dari kamu, setiap jiwa yang bernafas telah ditentukan oleh Allah tempatnya di Suurga atau di Neraka Begitu juga nasibnya telah ditentukan oleh Allah, apakah dia mendapat kecelakaan atau kebahagiaan.’ Saidina Ali berkata ‘Seorang lelaki berkata Wahai 
Rasulullah! Kenapa kita tidak menunggu ketentuan kita terlebih dahulu kemudian barulah memulakan amal ibadah? Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Barangsiapa yang termasuk dalam golongan yang mendapat kebahagiaan, sudah pasti dia mudah melakukan amalan golongan bahagia. Begitu juga barangsiapa yang termasuk dalam golongan yang mendapat kecelakaan, dia juga sudah pasti mudah melakukan amalan golongan celaka.’ Baginda bersabda lagi: ‘Lakukanlah amalan, karena segala-galanya dipermudahkan. Golongan yang mendapat kebahagiaan akan dipermudahkan melakukan amalan golongan yang mendapat kebahagiaan. Dan adapun golongan celaka maka akan dipermudahkan melakukan amalan golongan celaka.’ Setetusnya Baginda membaca ayat, yang artinya Adapun orang yang memberikan apa yang ada padanya ke jalan kebaikan dan bertakwa dengan mengerjakan suruhan Allah dan meninggalkan segala larangannya serta dia mengakui dengan yakin akan perkara yang baik, maka sesungguhnya kami akan memberikan dia kemudahan untuk mendapat kesenangan Syurga. Sebaliknya orang yang bakhil daripada berbuat kebajikan dan merasakan cukup dengan kekayaannya dan kemewahannya serta dia mendustakan perkara yang baik, maka sesungguhnya kami akan memberikannya kemudahan untuk mendapat kesusahan dan kesengsaraan. (HR Al-Bukhcui dan Muslim).
Tidak sadarkah bahwa kita akan mati, sedangkan sehmih perbuatan kita itu harus dipertanggung jawabkan? Pembela kebenaran hendaknya tidak terpikat kepada kebatilan, apalagi mendukungnya. Kewajiban umat adalah memberantas kemunkaian. Sedang keimmkaran yang terbesar adalah perusakan agama.
Adanya tokoh-tokoh yang merusak agama, perlu dilihat latai belakangnya pula. Uhl Abshar Abdalla, menurut Dawam Rahardjo (orang yang tampaknya biasa membela atau mendukung aliran dan pemikiran sesat), tingkatannya di atas Alunad Walub (tokoh yang menghebohkan karena bukunya yang beijudul Catatan Harian Alunad Wahib mengandung 26 poin yang menghina Islam dan menganggap semua agama sama9, dan Alunad walub itu cli atas Nurcholish Madjid.
Latar belakang Alunad Walub adalah orang muda yang dididik oleh dua orang Romo cli Jogjakarta selama 5 tahun. Sehingga pemikirannya sangat kacau dalam memandang balikan menafsirkan Islam. Demikian pula konon Ulil Abshar Abdalla itu dididik pula oleh seorang Romo terkenal yaitu Frans Magnis Suseno SJ cli Sekolah Tinggi teologia (Katohk) Filsafat Dnyarkara Jakarta. Ternyata Uhl tingkatannya lebih tinggi kekacauan pikirannya dibanding Alunad Walub, karena Romo yang mendidik Uhl pun lebih tinggi tingkatannya. Sementara itu, Nmcholish Madjid cli Clucago Amerika konon dididik oleh tokoh kontroversial berfaham pluralisme Agama yakni Fazhu Rahman, orang yang diusir (?) para ulama dan Pakistan karena pendapat-pendapatnya yang kontroversial.
Dengan kenyataan seperti itu, maka muat Islam mesti hati-hati dan waspada dalam mendidikkan anak-anaknya dan dalam bergaul. Hasil didikan dan pergaulan yang sedemikian mencemaskan semacam itu, yang lebih memprihatinkan runat Islam adalah makin banyaknya karun intelektual Islam yang dalam belajar Islam mereka itu cli bawah didikan orang-orang kafir Yahudi dan Nasrani di Baiat, dan sekarang mereka menjadi pengajar-pengajar cli perguruan-perguruan tinggi Islam dan lembaga-lembaga Islam se-Inclonesia. Para anak didik kafiim Baiat itulah justru yang banyak bercokol dan memang chcetak untuk menduduki perguruan- perguruan tinggi Islam se-Inclonesia, diprogram secara intensip sejak Menteri Agama Mukti Ah 1975 sampai kini, dan paling gencar cli masa Menteri Agama Munawir Sjadzali selama 10 tahun, 1983-1993. Dengan demikian, muat Islam mesti jeli. Agar selamat dan jeratan kafiim Yahudi dan Nasrani Barat anti Islam itu,
maka wajib mewaspadainya, menyingkirkan mereka, dan membatasi gerak mereka semaksimal mnngkm. Tanpa sikap yang demikian, justru umat Islam akan menjadi mangsa mereka, yaitu wakil-wakil kafiim Yahudi Nasrani yang berbaju Islam untuk memangsa Islam dan dalam.
Membunuh orang Islam di barisan kafiim waktu perang adalah sah, menurut ajaran Islam, maka memboikot total seluruh kegiatan wakil kafiim (yang belajar Islam ke orang-orang kafir Barat) adalah sah pula10. Dan sekarang sudah masanya muat Islam menjaga diri benar-benar mengenai bahaya nu.
Kalau Dawam Raliardjo menilai bahwa Uhl Abshar Abdalla adalah lebih tinggi dibanding Alunad Walub, sedang Ahmad Walub lebili tinggi dan Niucholish. Madjid, maka tak menglierankan, setelah Ulil “sukses” menghebolikan muat Islam dengan tulisannya yang menafikan hukiun Tuhan itu kemudian diundang untuk bicara cli Paramadma, Febiuan 2003. Konsepnya yang belmu matang lalu agak dimatangkan kemudian dihidangkan cli sana, dengan “mengompoli” orang-orang yang tergabung dalam diskusi cli Paiamdma bahwa kalau kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagaimana yang difaliami muat Islam selama nu maka artinya adalah penyembahan teks. Uhl mengajukan jalan keluarnya, yaitu Al-Qur’an chpakai naimm kedudukannya adalali separoh, sedang yang separolmya lagi adalali pengalaman manusia, karena manusia itu sudah diben taklim (penghonnatan).11
Jalan keluar yang dilontarkan Ulil itu sebenarnya hanyalah tidak mau menerima kalau manusia nu harus tunduk kepada Al-Qur’an dan As-Smmali. Maka Ustadz Hasan Bashon dengan sigapnya menanggapi lontaran sampali dan Ulil cli Paramadma Febiuan 2003 itu dengan buku yang berjudul Mewaspadai Gerakan Kontekstualisasi al-Qur'an, Pustaka Siuuiah, Surabaya, 2003, dengan meminta saya untuk meniben kata pengantar Meskipun kata-kata sampali Uhl itu sudah dibantah Ustadz Hasan Bashon (teman sekuliah dengan Ulil cli LIPIA Jakarta, lmigga berani mengatakan Ulil rosib -gagal/ tak lulus— sedang Hasan Bashon juara pertama), naimm. lantaran tingkatan Ulil cli kalangan orang sekuler dan liberal cukup tinggi, maka fatwa-fatwa sampahnya itupiui dipunguti, oleli Paramadma. Kemudian mereka pun mau mengikuti jejak Ulil, yakni ngawur sejadi-jadmya, lalu membentuk tim 9 orang sebagai penulis yang membuat apa yang mereka sebut Fiqih Lintas Agama, terbit menjelang aklm tahun 2003.
Kalau Ustadz Hasan Bashon telah berani melawan Uhl dengan menulis buku, walaupun Ulil cli jajaran Liberal dianggap oleh Dawam Raliardjo sebagai orang yang maqatm\ya tinggi, melebihi Alunad Walub dan Niucholish Madjid, maka untuk menulis buku yang membantah Niucholish Madjid dan kawan- kawannya pim al-hamchihllah sanggup. Kurang lebihnya, cara-cara ngawurnya seita kaduk wani kurang dugowya (terlalu berani tanpa perhitungannya) sama. Baik Uhl maupun tim penulis FLA Paramadma. Maka sebelmu membahas buku FLA perlu diungkap celoteh-celoteh Uhl dan lainnya yang model-model liberal dan ngawur lagi merusak Islam itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini